Di tengah janji pembangunan dan kemakmuran ekonomi oleh pemerintah—yang nampaknya belum juga dirasa oleh rakyat—Indonesia saat ini sedang disapa oleh amarah alam berupa banjir yang meluluhlantahkan, juga tanah longsor yang melenyapkan banyak kehidupan. Dan agaknya banyak pernyataan nirempati atas bencana yang terjadi, justru keluar dari mulut para pemangku kebijakan. Bencana-bencana seperti ini sering mereka sebut sebagai musibah alam atau faktor alamiah seolah-olah manusia hanya menjadi korban pasif dari siklus alam yang kejam. Padahal, jika ditilik kembali dan ingin jujur dalam menatap jejak kerusakan di baliknya seperti, sungai meluap dan tersumbat, lereng yang dibiarkan gundul—tampaklah jelas bahwa bencana tersebut adalah buah dari sebuah cara pandang dan pola relasi yang keliru antara manusia dan alam. Krisis ekologis yang sedang kita hadapi saat ini agaknya bisa penulis sebut merupakan hakikat dari krisis spiritual dan makna. Alam direduksi maknanya menjadi objek dan komodita...
Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo
Aktif, Komunikatif, Kompetitif dan Berkarakter Azhari